terapi stroke

Penanganan Stroke dengan Terapi yang Tepat

KlinikFisioterapi.com Terapi stroke dapat meningkatkan kualitas hidup pada penderitanya. Stroke bisa menyebabkan kelumpuhan atau mengurangi kemampuan fungsi tubuh. Dengan melakukan terapi stroke, sangat berguna dalam menjaga kondisi tetap baik dan mencegah kelumpuhan terjadi lebih lanjut.

Meskipun terdapat beberapa pasien stroke yang bisa pulih sepenuhnya dalam waktu relatif singkat, namun umumnya penderita stroke membutuhkan dukungan medis dan psikologis dalam waktu lama untuk mengembalikan fungsi tubuhnya agar kembali mandiri.

terapi stroke

Terapi Medis untuk Penanganan Stroke

Terapi medis biasa dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan kualitas hidup pasien stroke. Pasien stroke harus melakukan rekanalisasi yakni pembukaan kembali pembuluh darah otak yang tersumbat. Terapi lain adalah trombolitik yang menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan atau melarutkan gumpalan darah.

Melansir Liputan6 Health, menurut Kurniawan, kendala yang dihadapi untuk cara terapi di atas terdapat pada keterbatasan waktu yang hanya bisa dilakukan 24 jam pertama sejak serangan stroke. Muhammad Kurniawan merupakan dokter spesialis saraf yang mengikuti penelitian XANAP tentang penggunaan rivaroxaban untuk pencegahan stroke.

Berikut ini merupakan beberapa terapi yang bisa diberikan pada penderita stroke:

1. Terapi Fisik atau Fisioterapi

Stroke dapat menyebabkan otot-otot tubuh penderitanya melemah. Ini menyebabkan sendi-sendi sulit untuk bergerak. Akibatnya koordinasi dan gerakan tubuh menjadi berkurang sehingga aktivitas fisik yang dasar sepert berjalan dan berdiri pun ikut terhambat.

Fisioterapi dapat membantu penderita stroke untuk memperkuat otot-otot tubuh dan melatihnya agar bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Fisioterapi merupakan terapi yang dilakukan oleh spesialis fisioterapi dan juga terapis, dengan melakuakan evaluasi terlebih dulu pada masalah fisik yang dihadapi pasien.

Apabila masalah fisik yang diderita pasien terlalu parah, bisa digunakan alat bantu pendukung untuk memulihkannya dari gangguan gerak tubuh.

2. Terapi Bicara

Stroke juga bisa mengakibatkan hilang atau turunnya kemampuan bicara, tidak bisa menggunakan kata yang tepat, maupun ketidakmampuan untuk menyelesaikan kalimat. Otot yang mengontrol kemampuan bicara bisa rusak akibat serangan stroke.

Dengan terapi bicara pasien akan latihan cara berbicara dengan jelas dan runtut. Tetapi jika gangguannya terlalu parah, baru akan dicari alternatif cara berkomunikasi selain berbicara.

3. Terapi Okupasi

Terapi okupasi memberikan latihan pada pasien untuk merawat diri sendiri maupun latihan untuk dapat mandiri dan kembali beraktivitas seperti biasa. Pasien terapi okupasi dilatih sesuai keperluannya. Contoh terapi ini misalnya latihan membuka mata dan menggerakannya mengikuti perpindahan suatu benda.

Pada penderita stroke dapat terjadi gangguan pada kemampuan kognitifnya, seperti menurunnya kemampuan berpikir, penalaran, ketidakmampuan melakukan penilaian, atau masalah ingatan. Terapi okupasi bisa dilakukan bersama dengan terapi bicara untuk melatih kemampuan kognitif tersebut.

4. Terapi Rekreasi

Pasien pascastroke bisa mengikuti terapi rekreasi. Terapi ini dilakukan agar pasien bisa kembali mencintai kegiatan yang dulu sering ia lakukan. Sebagai contoh, memelihara hewan peliharaan, atau membuat kerajinan tangan dan barang seni. Semua tergantung pada minat penderita.

5. Terapi Psikologi

Kondisi mental yang menurun akibat stroke dapat dipulihkan dengan terapi psikologi atau disebut juga psikoterapi. Tetapi kondisi yang tidak lagi seperti sediakala rentan menimbulkan depresi dan emosi negatif pada penderitanya. Salah satu yang paling umum adalah menarik diri dari kegiatan sosial dan tidak ada harapan untuk sembuh.

Pencegahan Stroke

Salah satu cara paling mudah, murah, dan sehat untuk dilakukan agar terhindar dari risiko stroke adalah dengan berolahraga. Meskipun ada tindakan terapi, yang paling penting adalah menjaga kesehatan tubuh Anda. Penting juga bagi Anda yang mempunyai keluhan atau penyakit yang dapat memicu risiko stroke, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), gangguan irama jantung (atrium fibrilasi), dan diabetes.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Malcare WordPress Security